Visit To OLD CITY
Jakarta 26 January 2009

batavia on old city
Ibarat memakai baju tanpa celana, rasanya tak lengkap bila sebagai anak gaul sejabotabek tidak merasakan atau berkunjung ke kota tua. Ide ini pun dicetuskan secara asal-asalan oleh Moskie, berharap yang ikut visit ke kota tua bakal rame namun akhirnya hanya seonggok makhluk tak bertuan yang bisa ikut. Mereka adalah Moskie, Ace Irenk, dan Zio Bulu dimana para lelaki bandit tersebut mengisi liburan imlek dengan cara pergi ke kota tua.perjalanan dimulai dengan acara tunggu-tungguan, orang tua yang sudah tua berkata bahwa menunggu itu adalah hal yang berbahaya karena pikiran kotor bisa merasuk dijiwa. Setelah acara tunggu-tunggu an selesai, ketiga pria tampan berangkat dari base camp menuju stasiun kranji. Mungkin sudah tabiat orang yang selalu sial, baru perjalanan menuju stasiun saja sendal yang Zio tunggangi tak lama putus (swallow gitu lho). Akhirnya singgah dulu ke naga swalayan berniat mau mencari sandal pengganti namun urung karena harga yang ditawarkan melebihi kemampuan dompet Zio. Dengan terpaksa dia beli sendal di warung rokok dekat stasiun, merk dan jenisnya sama pula. Itupun harus nego dengan begitu lama, sandal jepit aja pake nego bos…., kamipun membeli tiket, buru-buru karena kereta ekonomi AC sudah sampai di stasiun Kranji.

Sembari menunggu kereta kami bersandau gurau, tiba-tiba Ace bersin sambil mengeluarkan kertas aluminium yang bulat seperti pelor, rupanya dia makan coklat koin sama bungkusnya jadinya kaya gitu deh. Ini kejadian langka, kami pun kagum serta terbelalak melihat kejadian seperti itu. Tak lama kereta tiba dengan gagahnya, dinginnya ASE membuat kami kesejukkan. Ditengah perjalanan kami berbincang-bincang bertiga, membahas masa depan bumi ini dan rapat sejenak tentang pemilu nanti tentang siapa yang akan jadi juaranya. Ketika ditengah perjalanan ACE mengalami kesialan, baru saja duduk di bangku yang empuk eh… dia bangun lagi karena ada penumpang orang tua yang tidak kebagian tempat duduk, pake kejedot lagi dia. Dug…. keras bunyinya, layaknya besi diadu dengan tulang. Semua orang yang berada di gerbong yang sama langsung tertawa ngumpet-ngumpet, moskie dan zio tertawa terang-terangan menertawakan Ace yang malang. Tak beberapa lama kami sampai ditujuan, Stasiun Kota. Melangkah keluar langsung menuju kota tua, teringat masa-masa remaja orang tua kami mengadu nasib di Jakarta. Foto-foto pun jadi tak terelakkan, mulai dari gaya narsis sampai bergaya najis, kami lakukan. Kami berjalan mengeliling komplek kota tua, senoraknya anak muda jaman sekarang, kami mengira-ngira latar belakang kota tua tersebut. Apakah sejarahnya dulu adalah gedung sederhana yang dibangun buat mumpet belanda atau dulunya pemerintahan belanda iseng membuat kota yang cukup megah ini. Cagar budaya milik Jakarta ini tidak begitu terawat, buktinya masih banyak bangunan tempat anak buang jin berdiri megah, gelap dan berbau amoniak (bau pesing).

Memang dihari itu bukan hanya kami saja yang berada disana, banyak anak-anak muda yang melancong bagaikan turis dinegeri sendiri. Banyak juga bule-bule bertebaran disana, mulai dari bule wati, bule ndari hingga bule tuti ada disana. Style-style mereka beraneka ragam, ada yang old skul hingga yang abstark seperti kami. Asyik berfoto-foto di depan museum dan deretan tembok gedung nan tua, perut kami terasa lapar.

orang-orang paling tampan
Untuk menghindari pemiskinan uang jajan maka kami mencari tempat makan di tempat yang bukan berada di komplek kota tua. Warteg, tempat favorit kami, murah dan enak. Moskie dan zio makan di warteg dengan lauk sederhana sedangkan si Ace asyik menguyah bekal dari mama nya berupa nasi dan ayam barat. Hujan tak hentinya mengguyur kota tersebut, walau tidak deras hanya gerimis tetapi cukup membuat kepala kami basah. Setelah makan dengan kenyang, kami mencari Masjid buat sholat namun tidak satupun Mushola di hari libur buka. Moskie sudah berjerit-jerit karena kakinya lecet tergesek pinggiran sendalnya yang tidak compitible oleh kaki besarnya. Ace mengusulkan untuk sholat di stasiun, namun sayangnya mushola yang ace maksud sudah berubah fungsi menjadi loket kereta api, terkutuk. Mengejar waktu ibadah kami membeli tiket kereta api ekonomi AC, berharap bisa pulang dan sholat di Bekasi. Sebentar saja kami singgah di kota tua, memang waktu tak sebanyak yang kami bayangkan, kendala hujan merupakan awal dari rasa kantuk kami mendera. Akhrinya kami pulang ke Bekasi dengan selamet, pulang ke rumah masing-masing dan tidur. hooooaaaaammmmmmmmm

holiday is fun day
DIarsipkan di bawah: Pengalaman-tanks
apa target kita selanjutnya ?