GOES TO NATIONAL MONUMENT

“GOES TO NATIONAL MONUMENT “

Jakarta Pusat “Monas”

Minggu 18 mei 2008

Mata masih saja tidak bisa tertidur padahal waktu sudah menunjukkan jam 5 pagi yang berarti setengah jam lagi kami berangkat menuju Monas untuk menghadiri acara jalan santai bersama LP3i Bekasi yang digawangi oleh SAMPOERNA Foundation. Anak-anak The Bhatanks ingin melepaskan penat dan menikmati gelaran hari kebangkitan nasional. Kami semua menginap di kampus yang bega dan penuh kutu busuk karena karpet tempat alas kami tidur dipenuhi kutu kupret yang menyebabkan tubuh kami gatal-gatal dan kami pun harus ditemani dinginnya AC yang kejam membunuh kami perlahan karena kami kehilangan remote control pengendali pendingin ruangan tersebut.

Sebelumnya kami tengah asyik bermain bola dengan keluarga besar The Bhatanks namun sayang permainan yang singkat tersebut harus usai karena bola bliter cap swallow kami harus keluar dari lapangan dan masuk kedalam wilayah tanah sengketa. Padahal Moskie mencetak gol dengan kaki kirinya lagi, penuh emosi dan semangat layaknya wayne rooney bahkan mirip dengan emre. Kami istirahat sebentar dan mengumpulkan dana untuk membeli bola namun ketika bola sudah kami beli, lagi-lagi kami terserang penyakit “malas bermain bola” akhirnya tuh bola menjadi mubasir tidak tersentuh gawang sekalipun. Kami pun berpencar satu sama lain ingin menikmati malam minggu dikampus, ocim dan mas denny sedang asyik menonton bokep diruang marketing, uphile dan ranger sedang bertualang mencari pengganjal perut lalu nanda, gembul, dan Ali sedang menyaksikan gelaran sinetron Trans TV di ruang pendidikan serta manto, adi entah sedang apa mereka berdua sedangkan moskie dengan anak gadis bertitel junior bernama yanti sedang jalan-jalan mencari makanan, bisa jadi gosip nih….

Pukul 12 malam kami kumpul kembali dan memutuskan untuk beristirahat, kami terpecah menjadi dua kubu, kubu pertama diketuai Ricky Marlay yang beranggotakan Uphile, Nanda, Ali, Gembul dan Trioyono berada di atas kampus tempat keluarga The Bhatanks biasa kongkow, bermain gitar sambil menonton orang mesum secara live dijembatan penyebrangan. Sedangkan kubu kedua yang diketuai oleh Ocim yang beranggotakan Rangeer, Moskie, Ace irenk, bange dan mantul bermain monopoly di ruang VIAR dengan gaya amatir penuh emosi dan pertumpahan darah, yang dimenangi oleh Ranger dan dipecundangi pembisnis gagal Mantul yang sok tuan tanah namun penuh hutang. Sebenarnya kami tidak tahu kalau jam sudah menunjukkan pukul tiga pagi ketika asyik bermain monopoli, bahkan seorang moskie pun kaget ketika menonton kualifikasi moto GP cepat kelar karena dia gak tahu kalau sudah jam segitu. Beruntung seorang ocim yang berwajah retro bin kusnadi ini memberitahukan kalau sudah waktunya untuk istirahat.

Kami tidur dengan gaya ayam rabun, pura-pura tak melihat namun telinga mendengar televisi yang memutar lagu-lagu MTV hit list. Tak ada yang bisa tertidur kecuali mantul dengan wajah jenazah nya ia terpampang melongok sambil tiduran dan matanya tak tertutup serta mulutnya menganga, Moskie kira ia tewas karena stress kalah bermain monopoly. Ada bange dengan daya ngorokan sekeras mesin tahu mengganggu ketenangan tidur kami, katanya sih tidak nyenyak tapi kok bisa ngorok ya dan tertawa sendiri, ih serem deh bo….. sedangkan ocim dengan wajah lugu “lutung gunung” menatap kehidupannya yang dipenuhi wanita cantik dan menggesek-gesek kelaminnya mengkhayalkan disentuh bidadari.

Kami tidak tahu apa yang dilakukan kubu pertama karena kami terlalu lelah untuk melangkah turun, niscaya dengkul kopong kami akan biru-biru karena tak mampu beranjak. Lelah ketika mengambil karpet untuk alas kami tidur, penuh kutu busuk yang membuat tidur kami tak nyaman. Sampai pukul lima pagi kami masih terbuka telinga dan nyawa masih tersadar.

Jam lima tepat kami mandi pagi dan beres-beres ditemani dengan lampu yang padam, sengaja dimatikan oleh pihak kampus supaya kami ketakutan dan turun kebawah sambil telanjang dada dan ditonton gadis-gadis kampus bahkan secara beringas diperkosa gadis kampus yang cantik-cantik karena melihat kemolekan tubuh kami. Tapi kami tetap bertahan di padamnya lampu tak kecuali Moskie yang sedang boker di WC, walau gelap namun hajat tetap berjalan, inilah kekuatan besar keluarga besar The Bhatanks. Wajah-wajah panik terlukis oleh mereka semua namun tetap bersama untuk menghindari hal yang diinginkan.

Setelah dirasa cukup tampan serta bertubuh harum, kami semua turun dari tempat kami istirahat dan menyambut para mahasiswa/wi LP3i yang sudah datang menunggu kami “duh pengen muntah nih”. Kami bersiap-siap berangkat sambil makan seonggok lontong plus segelas air mineral untuk mengganjal perut kami yang kosong. Tak lama kami berangkat dengan bus eksekutif, ber AC alam, berbau harum tai kucing dan memiliki tempat duduk nyaman buat mesum layaknya metro mini. Perjalanan memakan waktu sejam karena bis yang kami tumpangi terlalu berhati-hati menikmati jalan, takut kesenggol bajai.

Setelah sampai dimonas kami disambut oleh banyaknya warga yang menemani kami berjalan santai, banyak wajah-wajah cabul melihat kearah rombongan keluarga besar The Bhatanks, kami kira kami mirip artis-artis porno tahun tujuh puluhan tetapi perkiraan kami salah besar. Baju kami lah yang mencolok mata mereka, hingga mata mereka berdarah-darah. baju kaos buatan The Bhataks yang bertuliskan “ane cinte myabi “ ini menjadi warna tersendiri di segerombolan manusia yang berjalan santai dimonas. Bahkan seorang warga asing keturunan jerman tertawa melihat kaos yang kami pakai dan seorang warga lokal keturunan cina saja sampai menawarkan dagangan dvd bajakan ke kami “ ini sih kelebihan bohong”.

Kami berjalan bersama seperti prajurit kurang makan, wajahnya penuh peluh serta raut melas minta sesuap nasi. Kami tetap semangat karena kami mempunyai motto handal “karena kita lelaki”. Dibundaran HI kami berfoto-foto ria menikmati pandangan jakarta yang penuh emosi stabilitas dan mobilitas economic structur. Banyak fans-fans kami yang ikut berfoto bareng bersama kami, ada tukang tambal ban, pemain badminton Taufik Hidayat, warga monas bernama Tono dan pelatih PSSI bernama david hidayat. Pokoknya semua ceria bersama The Bhatanks. Perjalanan kami ditemani oleh marching band yang menggelar pameran paha mulus dan dada yang menyembul membuat semakin panasnya suasana jakarta hari itu. Mata kami tak lepas dari itu semua karena inilah hadiah untuk kami, selain itu ada para pasukan paskibra dengan gagahnya membusungkan dada tegap membawa bendera negara tercinta kita Indonesia. Lalu ada beberapa tukang buah-buahan segar yang memacu andrenaline kita untuk tidak membelinya karena kami tidak memakan buah-buahan. Hanya seorang ocim yang sibuk mengentri data wanita-wanita cantik, setiap ada wanita cantik pasti ia akan mendarat disamping wanita tersebut dengan cepat dan langsung tebar pesona.

Ada yang sedang dag dig dug pada hari itu, yaitu Bange. Bange pada hari itu sangat ingin mengutarakan perasaannya kepada calon pasangan betinanya bernama N**, ia berjanji pada hari itu akan menembak wanita tersebut walaupun kami semua berkeyakinan dia bakal ditolak busuk-busuk. Bagaimana dia menembak, kita ikuti kisah ini selengkapnya.

Bange dan cintanya

Saat itu kami sedang beristirah melepas penat dibawah pohon tempat jin beranak yaitu pohon beringin, seorang bange berjalan pelan menuju seorang gadis berkacamata serta berambut panjang sedang berada di pohon jeruk bergoyang-goyang bersama temannya. Kami melihat langkah gemilang dari sang bange, langkah-langkah penuh cinta, terlihat dari jejak kakinya yang sebesar bigfoot membentuk lukisan hati di aspal. Ia pun berdiri dibalik gadis itu, layaknya seorang penjambret yang mengintai korbannya. Sang wanita menoleh kebelakang dan “wah…” ia berteriak, sang gadis terkejut bukan kepalang ajar bagai bunga kembang tak jadi, ia meronta-ronta menjerit-jerit meminta tolong dan terjatuh menyeret-nyeret tanah. Sedangkan bange terus berkata “aku ingin bicara padamu N**”, berulang-ulang ia berbicara seperti itu dan berharap bisa meyakinkan kalau ia bisa mendapatkan gadis itu. Karena panik dan rasa ketakutan, Bange pun melarikan diri dari TKP karea takut bakal diamuk masyarakat yang berjumlah ratusan ribu tamu. Ia hanya berwajah senyum plus nyengir-nyengir kuda, sedangkan kami tertawa dan tersenyum dengan senyum-senyum setan.

Oh iya di acara ini kami kehadiran cewek idola kami tahun 2006 dan 2007, yaitu Sappoy yang mendapatkan julukan gadis sabun. Dia kami undang di acara kami untuk memperingati hari kebangkitan nasional dan peresmian lambang baru The Bhatanks. Tamu-tamu undangan kami banyak yang hadir tak terkecuali cewek favorit kami tahun 2008 dan 2009 bernama LIA yang kami beri julukan simungil menggairahkan. Terima kasih buat para tamu undangan yang telah hadir, semoga kalian tetap mengenang kami sampai akhir keturunan kalian.

Kami pulang selamat sampai tujuan walau kami berpisah antar keluarga karena ada beberapa dari kami ingin naik monas dan ada yang ingin langsung pulang karena hari semakin panas. Banyak yang ketiduran di Busway dan angkot lho, bahkan ocim yang tertidur di pintu angkot hampir terjatuh dan terseret dijalan. Semoga apa yang kami berikan pada dunia ini bisa menjadikan tolak ukur kebangkitan nasional, persahabatan kami tak lepas dimakan jaman hingga se abad berlalu tapi kami tetap saja menikmati hidup sebagai keluarga The Bhatanks yang terkenal akan kekompakan serta persahabatan yang begitu kental dan lekat serta berbau wanita.

BECAUSE WE ARE THE MAN

Tinggalkan Balasan